Minggu, 05 Oktober 2014

Psikologi Manajemen (Tugas 2 : Komunikasi)



Tugas 2
(Komunikasi)


     A.   Definisi Komunikasi

Komunikasi adalah proses sosial dimana individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka. 
Komunikasi juga merupakan penyampaian informasi, gagasan, emosi, ketrampilan, dan sebagainya dengan menggunakan lambang-lambang atau kata-kata, gambar, bilangan, grafik, dan lain-lain. Kegiatan atau proses penyampaiannya biasanya dinamakan komunikasi.
           
Komunikasi dibagi menjadi 2 yaitu:

     1.      Komunikasi internal.

Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawahan, antara sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal ini bisa berujud komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga komunikasi bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder. Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua, yaitu komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal.
Komunikasi vertikal adalah komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, dan lain-lain kepada bawahannya. Sedangkan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan dan sebagainya kepada pimpinan. Dan pengertian komunikasi horizontal atau lateral adalah komunikasi antara sesama seperti dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antarbagian. Komunikasi lateral ini memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah.

      2.      Komunikasi eksternal.
Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat dari pada pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang  dianggap sangat penting saja.

Komunikasi eksternal terdiri dari jalur secara timbal balik:

A.    Komunikasi dari organisasi kepada khalayak.
Komunikasi ini dilaksanakan umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai bentuk, seperti majalah organisasi; press release; artikel surat kabar atau majalah; pidato radio; film dokumenter; brosur; leaflet; poster; konferensi pers.
B.     Komunikasi dari khalayak kepada organisasi.
Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi.


    B.   Dimensi Komunikasi.

Dimensi-dimensi komunikasi meliputi dibawah ini :
1.      Isi
Isi adalah apa yang dibicarakan dalam komunikasi antara satu orang dengan orang yang lain atau bahkan lebih.
2.      Kebisingan
Kebisingan adalah tinggi rendahnya suara yaang terdengar dalam melakukan komunikasi.
3.      Jaringan
Jaringan adalah sejauh mana seseorang meluaskan jangkauan informasinya dalam melakukan komunikasi. Diantaranya ada komunikasi yang bergantung  pada (jaringan satelit).
4.      Arah
Komunikasi terdiri dari 2 macam arah yaitu :
a.  komunikasi satu arah adalah hanya ada satu orang berbicara menyampaikan infomasi untuk satu orang atau lebih contohnya promosi produk tertentu atau guru dikelas.
b. Komunikasi 2 arah adalah adanya interaksi antara satu orang menyampaikan informasi satu orang atau lebih juga ikut berbicara sehingga terciptanya interaksi untuk menyampaikan beberapa informasi.

    C.   Pemikiran

Komunikasi sangat penting untuk kepentingan pribadi maupun kelompok, sering sekali terjadi mis komunikasi pada sebuah organisasi. Informasi sendiri didapatkan karena adanya komunikasi. Komunikasi bisa menyatukan atau membuat keintiman antar individu juga dapat memecahkan hubungan yang terjalin antar individu maupun kelompok maka dari itu tidak jarang banyak orang yang keluar dari sebuah organisasi karena masalah komunikasi yang banyak orang sebut sebagai mis komunikasi.
Ketidak jelasan seseorang dalam menyampaikan informasi dapat pula dibilang sebagai kegagalan dalam berkomunikasi.


D.   Contoh Kasus

Sebuah organisasi osis di sma sedang mengadakan sebuah acara, sie acara tersebut telah menyusun rundown acara yang telah disepakati oleh seluruh panitia. ketika acara berlangsung ternyata salah satu pengisi acara yang telah dijadwalkan hadir, berhalangan hadir karena memiliki satu kendala. Humas yang menerima informasi langsung dari penerima acara lupa untuk laporan kepada sie acara atau time keeper.
Ketika waktunya pengisi acara itu tampil harus dicari-cari dulu, baru lah humas ingat bahwa pengisi acara itu berhalangan hadir. Tetapi acara yang berlangsung menjadi berantakan rundown nya.

     E.   Analisa
Jelaslah dalam contoh kasus bahwa komunikasi sangat penting dalam segala hal karena komunikasi merupakan informasi yang wajib diketahui oleh orang-orang yang berkepentingan terlebih pada sebuah organisasi. 


-           Daftar Pustaka
     West,Richard, Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, Jakarta : Salemba Humanika, 2008.
-          Effendy,Onong,  Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994
-          Wiryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia Wiasarana Indonesia, 2005
-          Abu, Ahmadi, Psikologi umum, Edisi Revisi 2009.


Nursila Raisamatari
15512518
Dosen: Ade Wijaya
Psikologi Manajemen

Kamis, 10 Juli 2014

Kesehatan Mental (Mengarahkan Perubahan Diri) Nursila Raisamatari (15512518)



Mengarahkan Perubahan Diri 
 
Contoh Kasus
Orang yang mempunyai trauma kasus bullying dan ingin menghilangkan trauma itu dapat melakukan beberapa pengarahan tentang perubahan diri, diantaranya adalah:

1.     Meningkatan kontrol diri
Lebih ke bagaimana seseorang dapat mengontrol emosi terhadap penyebab-penyebab timbulnya trauma baik itu faktor eksternal maupun internal.
Contoh: Ketika orang yang mempunyai trauma dihadapkan dengan perkataan dan perbuatan yang menjurus ke arah masa lalunya, maka dia harus dapat bersikap acuh dan tidak memperdulikan keadaan eksternal, jangan dimasukkan ke dalam hati lalu sebisa mungkin anggap itu sebuah lelucon.

2.    Menetapkan Tujuan
Membuat program perbaikan diri untuk memilih tujuan yang terlalu ambisius atau tidak realistis.
Contoh: Jika orang yang mengalami trauma itu adalah orang yang pendiam dan anti social cobalah buat program agar anda memperbaiki diri menjadi orang yang rame. Harus ambisius menjalani program itu agar dapat cepat segera hilangkan trauma, tidak realistis memang tetapi harus dicoba jalani.

3.    Menyusun konsekuensi yang efektif
Ketika telah menetapkan tujuan maka harus mempunyai konsekuensi misalnya jika konsekuensi itu tidak dijalankan maka harus adanya reinforcer.
Contoh: Ketika seseorang itu gagal untuk bersikap menjadi orang yang rame maka ia akan menghukum dirinya sendiri agar ketika dihadapkan suatu masalah dia akan konsekuen dengan tujuan awalnya. 

4.    Evaluasi
Akan ada hari yang baik dan buruk ketika melakukan self-impovement (perbaikan diri sendiri). Sering sekali orang-orang cenderung meremehkan peningkatan mereka dikarenakan tidak secepat yang mereka inginkan. Beberapa perubahan dalam perilaku terjadi secara berangsur-angsur dan memerlukan kesabaran yang besar. Ketika peningkatan mereka megecewakan, ada beberapa hal yang menjadi kesalahan. Yang paling sering dikarenakan kekurangan sasaran perilaku yang di tetapkan, kesalahan dalam catatan, atau gagal dalam menggunakan reinforcement dengan benar
Contoh: Catat semua perubahan diri dari mulai kamu berusaha. Usahakan untuk terus berusaha seperti yang diinginkan agar dapat berhasil jika usahamu gagal cobalah untuk merenung dimana letak kesalahannya dan ketika usahamu berhasil namun belum maksimal tingkatkan semua dengan kunci ambisius yang tidak realistis itu


Nursila Raisamatari
15512518
2PA03
Dosen: Ibu Lidya Catrunnada

Selasa, 24 Juni 2014

Kesehatan Mental "Cinta Dan Pernikahan" (Nursila Raisamatari 15512518)



CINTA DAN PERNIKAHAN
Wawancara dengan MR & MS X

Keluarga kecil ini telah hidup bersama sejak tahun 1991 ketika pasangan suami istri ini mengikatkan janjinya. Mereka memiliki 5 orang anak 3 perempuan dan 2 laki-laki. Mr. X bekerja menjadi PNS DAN Ms. X bekerja pada salah satu perusahaan swasta, mereka termasuk orang yang berkecukupan walaupun tidak berlebihan, tetapi mereka selalu menanamkan pada anak-anak mereka bahwa harus selalu rendah hati, dan harus selalu berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Mereka tinggal di sebuah komplek kecil daerah kampung dukuh. Anak mereka yang pertama perempuan baru saja menikah beberapa bulan yang lalu, yang kedua perempuan lagi sedang melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas swasta di Jakarta, anak ke 3 mereka laki-laki baru lulus SMA tahun ini, anak keempat mereka perempuan kelas 1 SMA dan anak bungsu mereka laki-laki kelas 2 SMP. Mr. X mengakui bahwa dia tidak dapat berada jauh dari keluarganya, ketika anak keduanya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di bali Mr.X tidak setuju karena dia tidak mau kekurangan salah satu anggota keluarga kecilnya.
Keluarga ini sangat harmonis mereka dapat mengatasi masalahnya sendiri tanpa harus bertengkar hebat dengan pasangannya, mereka mengerti cara meredam emosi dan mereka mengerti bahwa masalah karena mereka mengetahui dari awal, menjadi seorang suami istri pasti akan ada banyak hal yang terlewati dan mereka menyadari dalam hidup seseorang tidak pernah luput dari kesalahan. Walaupun mereka dapat berkumpul hanya hari sabtu atau minggu namun komunikasi mereka dan anak-anak mereka tetap terjalin, sebelum tidur pun mereka selalu berdiskusi kecil tentang hal yang paling kecil hingga hal yang paling besar. Adapun beberapa alasan yang telah menjadi komitmen mereka sejak awal antara lain,
1.      Membangun Rasa Percaya
2.      Menghargai Pasangan
3.      Berusaha selalu ada untuk pasangan
4.      Menciptakan Harapan
5.      Mencoba hal baru
Mereka sadar mereka akan banyak mengalami tahap dimana pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya dan ketika mereka mengalami tahap ini mereka akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya dan mereka akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati pasangannya dan saat itu, mereka akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang nyaman dan tentram.
Setelah pertengkaran dan mereka mengerti jalan keluarnya mereka akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan. Mereka semakin menghayati cinta kasih pasangannya.
Mereka mengakui bahwa anak-anak mereka terkadang ingin mempunyai rumah tangga yang harmonis seperti mereka, mereka pun dapat selalu menyisihkan waktunya untuk dapat berkumpul bersama keluarga. Mereka juga selalu berfikir ke depan, setiap gaji yang mereka dapati sebagian mereka tabung untuk keperluan masa depan anak-anak mereka karena mereka sama-sama takut tidak bisa menemani anak-anak mereka sampai mereka sukses.
Dan mereka sama-sama berharap dan sama-sama ingin menghabiskan sisa umur mereka dan masa tua mereka bersama-sama. Mereka ingin selalu menjadi keluarga yang harmonis dan besar harapan mereka untuk anak-anaknya menjadi sukses. Semoga segala sesuatu yang mereka inginkan dan segala sesuatu yang mereka harapkan dapat terwujud, dan semoga hubungan harmonis mereka akan menjadi panutan bagi anak-anak mereka juga bagi orang lain di sekitar mereka.


Nursila Raisamatari (15512518)
2PA03
Dosen: Ibu Lidya Chatrunnada
Kesehatan Mental      
 

All About Psychology Template by Ipietoon Cute Blog Design