Selasa, 24 Juni 2014

Kesehatan Mental "Cinta Dan Pernikahan" (Nursila Raisamatari 15512518)



CINTA DAN PERNIKAHAN
Wawancara dengan MR & MS X

Keluarga kecil ini telah hidup bersama sejak tahun 1991 ketika pasangan suami istri ini mengikatkan janjinya. Mereka memiliki 5 orang anak 3 perempuan dan 2 laki-laki. Mr. X bekerja menjadi PNS DAN Ms. X bekerja pada salah satu perusahaan swasta, mereka termasuk orang yang berkecukupan walaupun tidak berlebihan, tetapi mereka selalu menanamkan pada anak-anak mereka bahwa harus selalu rendah hati, dan harus selalu berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Mereka tinggal di sebuah komplek kecil daerah kampung dukuh. Anak mereka yang pertama perempuan baru saja menikah beberapa bulan yang lalu, yang kedua perempuan lagi sedang melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas swasta di Jakarta, anak ke 3 mereka laki-laki baru lulus SMA tahun ini, anak keempat mereka perempuan kelas 1 SMA dan anak bungsu mereka laki-laki kelas 2 SMP. Mr. X mengakui bahwa dia tidak dapat berada jauh dari keluarganya, ketika anak keduanya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di bali Mr.X tidak setuju karena dia tidak mau kekurangan salah satu anggota keluarga kecilnya.
Keluarga ini sangat harmonis mereka dapat mengatasi masalahnya sendiri tanpa harus bertengkar hebat dengan pasangannya, mereka mengerti cara meredam emosi dan mereka mengerti bahwa masalah karena mereka mengetahui dari awal, menjadi seorang suami istri pasti akan ada banyak hal yang terlewati dan mereka menyadari dalam hidup seseorang tidak pernah luput dari kesalahan. Walaupun mereka dapat berkumpul hanya hari sabtu atau minggu namun komunikasi mereka dan anak-anak mereka tetap terjalin, sebelum tidur pun mereka selalu berdiskusi kecil tentang hal yang paling kecil hingga hal yang paling besar. Adapun beberapa alasan yang telah menjadi komitmen mereka sejak awal antara lain,
1.      Membangun Rasa Percaya
2.      Menghargai Pasangan
3.      Berusaha selalu ada untuk pasangan
4.      Menciptakan Harapan
5.      Mencoba hal baru
Mereka sadar mereka akan banyak mengalami tahap dimana pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya dan ketika mereka mengalami tahap ini mereka akan lebih memahami bagaimana posisi dan diri pasangannya dan mereka akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati pasangannya dan saat itu, mereka akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang nyaman dan tentram.
Setelah pertengkaran dan mereka mengerti jalan keluarnya mereka akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman, kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan. Mereka semakin menghayati cinta kasih pasangannya.
Mereka mengakui bahwa anak-anak mereka terkadang ingin mempunyai rumah tangga yang harmonis seperti mereka, mereka pun dapat selalu menyisihkan waktunya untuk dapat berkumpul bersama keluarga. Mereka juga selalu berfikir ke depan, setiap gaji yang mereka dapati sebagian mereka tabung untuk keperluan masa depan anak-anak mereka karena mereka sama-sama takut tidak bisa menemani anak-anak mereka sampai mereka sukses.
Dan mereka sama-sama berharap dan sama-sama ingin menghabiskan sisa umur mereka dan masa tua mereka bersama-sama. Mereka ingin selalu menjadi keluarga yang harmonis dan besar harapan mereka untuk anak-anaknya menjadi sukses. Semoga segala sesuatu yang mereka inginkan dan segala sesuatu yang mereka harapkan dapat terwujud, dan semoga hubungan harmonis mereka akan menjadi panutan bagi anak-anak mereka juga bagi orang lain di sekitar mereka.


Nursila Raisamatari (15512518)
2PA03
Dosen: Ibu Lidya Chatrunnada
Kesehatan Mental      

Rabu, 16 April 2014

Psikoterapi Tugas Pribadi (Komentar Jurnal)

PSIKOTERAPI


DISUSUN OLEH:
NURSILA RAISAMATARI S (15512518)

KELAS: 2PA03-3PA06


UNIVERSITAS GUNADARMA


Komentar Jurnal
Jurnal peneliti yang berjudul “Terapi Keluarga untuk Peningkatan Komunikasi Verbal pada Orang dengan Skizofrenia” merupakan studi percobaan. Peneliti bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai seberapa penting peranan keluarga dalam perkembangan skizofrenia. Seperti yang kita tahu bahwa sejak awal kehidupan individu yang mengalami skizofrenia dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang diterima dari anggota keluarganya. Jika sikap orang tua keras, maka akan mengganggu perkembangan jiwa anak yang kemudian menjadi lemah dan rapuh, sehingga mudah mengalami gangguan.
Terapi keluarga sangat penting untuk peningkatan kualitas komunikasi verbal untuk orang yang terkena skizofrenia karena dapat mengurangi ekspresi emosi keluarga terhadap orang dengan skizofrenia.
Setelah penelitian dalam jurnal tersebut analisis membuktikan bahwa terapi keluarga merupakan salah satu jenis terapi yang tepat dikenakan bagi orang dengan skizofrenia. Karena disitu orang dengan skizofrenia dan keluarganya diajarkan cara berkomunikasi yang baik. Namun dalam komunikasi verbal, pernyataan perasaan yang diekspresikan kepada orang skizofrenia harus hati-hati karena orang skizofrenia lebih peka terhadap situasi yang penuh emosi disbanding situasi yang tenang.
Jurnal  “Terapi Keluarga untuk Peningkatan Komunikasi Verbal pada Orang dengan Skizofrenia” sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut karena seperti yang telah diketahui terapi keluarga sangat penting untuk orang dengan skizofrenia karena pada dasarnya peranan keluarga sangat penting dalam kesehatan mental anak. Diharapkan dilakukan penelitian lanjutan untuk meyakinkan bahwa terapi keluarga sangat baik untuk orang dengan skizofrenia.
Dalam penulisan yang sangat penting dalam jurnal “Terapi Keluarga untuk Peningkatan Komunikasi Verbal pada Orang dengan Skizofrenia” perlu adanya koreksi dan ketelitian sehingga pengertiannya tidak rancu.

Perlu adanya penggalian lebih dalam lagi agar meyakinkan pembaca bahwa terapi keluarga sangat baik untuk orang penderita skizofrenia. Berbagai aspek yang dikaitkan harus ditinjau kembali agar menghasilkan sesuatu yang belum diketahui secara umum.

Kesehatan Mental (Tugas Pribadi) Nursila Raisamatari (15512518)

KESEHATAN MENTAL
Description: gundar.jpg
DISUSUN OLEH:
NURSILA RAISAMATARI S (15512518)


KELAS: 2PA03



UNIVERSITAS GUNADARMA
PENGALAMAN MASA LALU DEMI LOVATO 
DALAM TEORI KESEHATAN MENTAL  
"PSIKOANALISIS FREUD"

Saya akan memasukan kasus Demi Lovato terhadap teori psikoanalisis dari Freud. Sigmund freud dan orang-orang yang mengikuti ajarannya mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat atau kepribadian yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik.
Kepribadian yang sehat menurut psikoanalisis antara lain:
1. Individu bergerak menurut pola perkembangan yang ilmiah.
2. Kemampuan dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, dengan belajar
3. Mental yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego
4. Tidak mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya
5. Dapat menyesuaikan keadaan dengan berbagai dorongan dan keinginan
Namun kasus Demi Lovato sangat bertentangan dengan 5 kepribadian sehat menurut psikoanalisis, Demi Lovato tidak mampu belajar mengatasi tekanan dan kecemasan oleh trauma masa lalunya, Demi Lovato juga tidak bisa menyeimbangkan fungsi dari superego karena dia tidak bisa percaya pada kenyataan dia balik ke masa lalunya selalu, Demi Lovato juga mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya Demi Lovato menyebut penyakitnya itu adalah “physical and emotional issue” yang belakangan diketahui berupa depresi dan bulimia. Karena itu, ia mencoba untuk menyembuhkan diri dengan tinggal di tempat rehabilitasi selama tiga bula, dan Demi Lovato juga tidak dapat menyesuaikan keadaan dengan berbagai dorongan dan keinginan. Ketika dia mengadakan konser dalam keadaan lapar.
Kasus Demi Lovato ini berawal dari kelas 7th Grade, setara dengan kelas 2 SMP di Indonesia, Demi Lovato di-bully oleh teman-teman sekolahnya. Ia yang saat itu masih kanak-kanak dan innocent diledek sebagai: “Cewe Gemuk” oleh tidak hanya satu, tapi banyak teman yang menyebutnya demikian. Memang itu hanya dua kata yang sederhana, tapi siapa sangka dua kata tersebut terekam kuat di otak Demi. Bahkan mempengaruhi hidupnya sampai sekarang. Sejak usia 12 tahun, Demi membenci tubuhnya. Ia menjadi seorang penderita eating disorder yang semakin lama semakin berkembang menjadi bulimia. Bulimia adalah gangguan pola makan yang serius, dimana seseorang makan makanan dengan jumlah yang banyak dalam waktu singkat dan kemudian dia membersihkan diri dari makanan tersebut dengan cara memuntahkan kembali  makanan tersebut atau dengan menelan obat pencahar. Hal ini diakibatkan oleh keinginan kuatnya untuk menjadi kurus.
Dengan menjadi artis, tidak membuat hidup Demi lebih baik, bahkan sebaliknya. Ia semakin kehilangan kepercayaan diri dan malu akan tubuh yang menurutnya ‘gemuk’ tersebut. Pola pikir ini membuat  Demi mengadakan konser dalam keadaan lapar, kehilangan suara karena muntah, dan dalam keadaan paling buruk, ia muntah lima kali dalam sehari. Bahkan Demi merasa  depresi apabila papparazi tersebut mengambil fotonya dengan angel yang buruk, sehingga ia kelihatan lebih gemuk.  Depresi ini mengantarkan Demi untuk mulai berkenalan dengan alkohol dan mulai menyayat-nyayat tangannya dengan benda tajam. Menurut Demi, ini adalah cara untuk keluar dari kecemasan dan depresi yang dialaminya.
Demi lovato  tidak lagi gemuk. Namun, apakah itu dapat membuat luka yang ditorehkan teman-teman disekolahnya dulu, menghilang? Apakah ia sekarang dapat merasa nyaman dengan tubuhnya? Apakah ia dapat menemukan kepercayaan diri kembali? Jawabannya adalah tidak. Karena menjadi kurus bukanlah solusinya. Apa yang terluka bukanlah fisik luarnya Demi, tapi di dalamnya, dihatinya. Walaupun ia telah menjadi artis, dipuja akan kecantikannya, bahkan jutaan wanita ingin menjadi seperti dirinya, namun tetap saja pengalaman di-bully oleh teman-teman sekolah menghantui hidupnya. Entah sampai kapan.
Walaupun saat ini Demi telah menyelesaikan program rehabilitasi, Demi mengakui bahwa ia masih berusaha keras untuk sembuh dari bulimia dan depresi yang dialaminya.  Bullying merupakan fenomena yang sangat sering terjadi dari zaman dulu hingga sekarang. Bullying sudah sangat lumrah  dilakukan oleh anak SD, SMP dan SMA. Bullying seperti sengaja dibiarkan tanpa ada tindakan yang berarti dari para guru dan orang tua untuk memarahi murid atau anaknya yang melakukan bully. Tidak ada yang tahu bahwa seseorang yang menjadi korban bullying, mungkin ia ikut tertawa diluar, namun menangis di dalam. Siapa yang menyangka bahwa ledekan yang sering kita dengar atau kita lakukan sehari-hari, dapat mempengaruhi hidup seseorang sedemikian jauh, mungkin untuk sementara atau untuk selama-lamanya.
Dari kisah hidup Demi Lovato, kita dapat menarik pelajaran yang sangat berharga mengenai dampak bullying terhadap kehidupan seseorang. Akhir kata, saya ingin mengutip salah satu ayat alqur’an yang saya ambil dari Surah Al-Hujurat:
“Dan janganlah kalian panggil memanggil dengan gelar yang buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11).
Disini saya dapat menyimpulkan bahwa dalam aliran Psikoanalisa ini bisa dibilang manusia adalah korban tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak. Aliran ini melihat dari sisi negative individu, alam bawah sadar (id,ego,superego, mimpi dan masa lalu). Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit atau kurang, ‘sisi yang pincang’ dari kodrat manusia, karena hanya berpusat pada tingkah laku yang neouritis dan psikotis.




NURSILA RAISAMATARI
15512518
2PA03

Dosen: Ibu Lidya Chatrunnada

Kamis, 03 April 2014

Psikoterapi (Family Therapy) Tugas Pribadi



KOMENTAR JURNAL

A. KELEBIHAN JURNAL
Jurnal “PERAN TERAPI KELUARGA EKSPERIENSIAL DALAM KONSELING ANAK UNTUK MENGELOLA EMOSI” sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut karena seperti yang telah diketahui bahwa Proses konseling anak sangat membutuhkan peran dari anggota keluarga. Lingkungan keluarga merupakan suatu tempat dimana anak berinteraksi sosial dengan orang tua yang paling lama. Perkembangan sistem sosial dikembangkan dalam keluarga untuk memberikan pengalaman pada anak bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar keluarga. 
Peran terapi keluarga eksperiensial adalah sebagai katalisator perubahan, dengan memanfaatkan dampak personal individu dalam keluarga agar anak dapat mengelola perkembangan emosi ke arah yang posistif. Dalam penelitian ini, peneliti mendapatkan hasil atau penemuan baru karena mengkaji tentang peran terapi keluarga eksperiensial untuk mengelola emosi. Diharapkan dilakukan penelitian lanjutan untuk meneliti aspek-aspek lain yang dapat diperoleh dari peran terapi keluarga sehingga diperoleh informasi yang menyeluruh



B. KELEMAHAN JURNAL
Dalam penulisan hal yang sangat penting dalam jurnal “PERAN TERAPI KELUARGA EKSPERIENSIAL DALAM KONSELING ANAK UNTUK MENGELOLA EMOSI” , perlu adanya koreksi dan ketelitian sehingga tidak terdapat kesalahan dalam aspek variabel  (pengertiannya menjadi rancu).
Perlu adanya penggalian lebih dalam lagi dari segi atau aspek emosi yang dimaksud peneliti, sehingga dapat tersampaikan dengan baik. Validitas dan reabilitas dari satu unsur terkait unsur lainnya perlu diteliti dan dibahas lebih mendetail agar tidak menimbulkan kekeliruan interpretasi. Berbagai aspek emosi yang dikaitkan ditinjau kembali agar menghasilkan sesuatu yang belum diketahui secara umum.






NURSILA RAISAMATARI
15512518
2PA03
PSIKOTERAPI

Rabu, 02 April 2014

KESEHATAN MENTAL "HUMANISTIK" TUGAS KELOMPOK

KESEHATAN MENTAL
gundar.jpg
DISUSUN OLEH:
IKHTIARNA UKHTI MALION (13512588)
MUHAMMAD ARIEF MUNANDAR (14512881)
NURSILA RAISAMATARI. S (15512518)
RHEZA YUDHISTIRA WIBOWO (16512235)
TANIA INDRIANA (16509639)
KELAS: 2PA03

UNIVERSITAS GUNADARMA
TEORI HUMANISTIK TENTANG
KESEHATAN MENTAL

A.    PENGERTIAN HUMANISTIK
Banyak sekali teori yang mengemukakan tentang kepribadian, akan tetapi pada pembahasan kali ini, kami dari kelompok “Humanistik” hanya akan membahas mengenai teori kepribadian Humanistic. Dalam pandangan Humanistic, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka. Maslow menekankan bahwa individu merupakakn kesatuan yang terpadu dan teroganisasi, sedangkan Kelly menyakini bahwa tidak ada kebenaran yang objektif dan kebenaran yang mutlak absoulot (dalam Hikmat,2012).
Teori Humanistic dipandang sebagai “third force” (kekuatan ketiga) dalam psikologi, dan merupakan alternative dari kedua kekuatan yang dewasa ini dominan (psikoanalisa dan behavioristik). Kekuatan ketiga ini disebut humanistic karena memiliki minat yang eksklusif terhadap tingkap laku manusia. Humanistic dapat diartikan sebagai “Orientasi eoritis yang menekankan kualitas manusia yang unik, khususnya terkait dengan free will dan potensi untuk mengembangkan dirinya”
Humanistik mulai muncul sebagai sebuah gerakan  besar psikologi dalam tahun 1950-an. Aliran Humanistik merupakan konstribusi dari psikolog-psikolog terkenal seperti Gordon Allport, Abraham Maslow dan Carl Rogers.
Walaupun psikolog humanistik dipengaruhi oleh psikoanalisis dan behaviorisme, namun aliran ini mempunyai ketidaksesuaian yang sangat berarti dengan psikoanalisis dan behaviorisme. Tekanan utama yang oleh behavioris dikenakan pada stimuli dan tingkah laku yang teramati, dipandang Psikologi Humanistik sebagai penyederhanaan yang keterlaluan yang melalaikan diri manusia sendiri dan pengalaman-pengalaman batinnya, tingkah lakunya yang kompleks seperti cinta, nilai-nilai dan kepercayaan, begitu pula potensinya untuk mengarahkan diri dan mengaktualisasikan diri. Maka psikologi humanistik sangat mementingkan diri (self) manusia sebagai pemersatu yang menerangkan pengalaman-pengalaman subjektif individual, yang banyak menentukan tingkah lakunya yang dapat diamati. Psikolog-psikolog Humanistik pun tidak menyetujui pandangan pesismis terhadap hakekat manusia dan dicerminkan oleh psikoanalisis Freud maupun pandangan netral (tidak jahat dan tidak baik) kaum behavior.
Kedua aliran itu memandang tingkah laku manusia secara salah yaitu sebagai tingkah laku yang seluruhnya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan diluar kekuasaannya; apakah kekuatan-kekuatan itu berupa motif-motif yang tak disadari atau conditioning dari masa kanak-kanak dan pengaruh lingkungan. Bertentangan dengan kedua pandangan aliran tadi, aliran Humanistik menyetujui sebuah konsep yang jauh lebih positif mengenai hakekat manusia, yakni memandang hakekat manusia itu pada dasarnya baik. Perbuatan-perbuatan manusia yang kejam dan mementingkan diri sendiri dipandang sebagai tingkah laku patologik yang disebabkan oleh penolakan dan frustasi dari sifat yang pada dasarnya baik itu. Seorang manusia tidak dipandang sebagai mesin otomat yang pasif, tetapi sebagi peserta yang aktif yang mempunyai kemerdekaan memilih untuk menentukan nasibnya sendiri dan nasib orang lain.
Psikologi Humanistik mengarahkan perhatiannya pada humanisasi psikologi yang menekankan keunikan manusia. Psikologi humanistic manusia adalah makhluk kreatif, yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan pada kekuatan-kekuatan ketidaksadaran.
Abraham Maslow menekankan pada teori motivasinya, yaitu:
1.      Kebutuhan-kebutuhan fisiologis
2.      Kebutuhan-kebutuhan rasa aman
3.      Kebutuhan-kebutuhan rasa cinta dan memiliki
4.      Kebutuhan akan penghargaan
5.      Kebutuhan akan aktualisasi diri
B.     MENINJAU KESEHATAN MENTAL MENURUT HUMANISTIK
Dari kebutuhan di atas manusia memiliki motivasi yang mempengaruhi sikapnya. Motivasi menimbulkan perilaku. Sesuai dengan keyakinan humanistic bahwa manusia unik maka untuk memenuhi kebutuhan manusia melakukan hal-hal yang berbeda, kreatif dan bebas dari segala tekanan dari luar. Dalam mengambil keputusan individu yang sehat juga menggunakan segala aspek psikologisnya seperti emosional dan intelegensinya dan tidak terburu-buru. Hal tersebut merupakan ciri dari orang yang memiliki jiwa yang sehat.
Dan kesehatan mental menurut humanistic adalah setiap manusia memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi gangguan mentalnya dan bagaimana manusia melakukan hal yang berbeda-beda dalam menghadapi berbagai tekanan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental.
Menurut aliran humanistic kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja mengandalkan pengalamn-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat baik (dalam Pramudityo,2013) . bagi ahli-ahli psikologi humanistic, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia harus dapat mengatsi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri-ciri lingkungan. Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negative yang secara potensial menghambat.
C.    KESEHATAN MENTAL MENURUT ALLPORT
Allport percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat tidak dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar (kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi). Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tidak sadar . individu yang sehat berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan yang membimbing dia dan dapat mengontrol kekuatan itu juga.
Kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma ataupun konflik pada masa kanak-kanak. Pusat dari kepribadian kita adalah intensi-intensi kita yang sadar dan sengaja, misalnya harapan, aspirasi dan impian. Manusia didorong untuk mereduksikan tegangan-tegangan, menjaga supaya tegangan-tegangan berada pada tingkat yang paling rendah dan menjaga satu keadaan keseimbangan homeostatis internal atau “homeostatis”.
Manusia yang sehat memiliki kebutuhan akan sensasi-sensasi dan tantangan tantangan yang bervariasi. Orang yang sehat didorong ke depan oleh suatu visi masa depan, dan visi itu menyatukan kepribadiannya dan membawa orang itu ke tingkat stress yang lebih tinggi.
Menurut Allport, kebahagiaan bukanlah suatu tujuan dalam diri, tetapi hasil sampingan dari integrasi kepribadian dalam mengejar aspirasi dan tujuan. Tujuan-tujuan yang dicita-ditakan oleh orang yang sehat pada hakikatnya tidak dapat dicapai. Orang-orang yang matang dan sehat tidak puas apabila dalam melakukan sesuatu hanya dalam taraf sedang atau memadai, mereka baru merasa puas apabila melakukan sesuatu dengan kemampuan maksimal mereka.
A.     Pendekatan Allport terhadap kepribadian
Individu-individu yang sehat yang berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekuatan-kekuatan itu juga. Orang-orang yang sehat bebas dari masa lampau. Orang-orang yang sehat dibimbing dan diarahkan oleh masa sekarang dan oleh intense-intensi kea rah masa depan dan antisipasi-antisipasi masa depan. Pandangan orang yang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer yang akan datang dan tidak mundur kembali kepada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak.
B.     Motivasi pada pribadi yang sehat
Orang yang sehat didorong kedepan oleh suatu visi masa depan dan visi itu dengan tujuan-tujuan khusus mempersatukan kepribadian dan membawa orang itu kepada tingkat-tingkat tegangan yang bertambah. Motivasinya lebih kepada mencari kepuasaan yang lebih tinggi tingkatannya setelah salah satu tujuan telah terpenuhi. Contoh: ketika kebutuhan biologis sudah terpenuhi maka individu tersebut akan mencari lagi sesuatu yang baru yang dapat memuaskannya.
C.     Kriteria kepribadian yang sehat
1.      Perluasan diri sendiri
Orang menjadi matang, dia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri.
2.      Hubungan diri yang hangat dengan orang-orang lain
Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman-keintiman atau cinta serta simpati dan empati terhadap orang lain.
3.      Keamanan emosional
Kepribadian yang sehat mampu menerima semua segi dari apa yang ada pada diri mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan.
4.      Persepsi realistis
Orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif.
5.      Keterampilan-keterampilan dan tugas
Orang yang berjiwa sehat menggunakan keterampilan-keterampilan secara ikhlas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita.
6.      Pemahaman diri
Memahami tentang hubungan atau perbedaan antara gambaran tentang diri yang dimiliki seseorang dengan dirinya menurut keadaan yang seseungguhnya.
7.      Filsafat hidup yang mempersatukan
Orang yang berjiwa sehat memiliki pandangan hidup dan nilai-nilai diri sendiri dalam menjalani hidup dan mengambil keputusan. Bukan berdasarkan nilai-nilai dan pandangan orang lain.
Ketujuh hal di atas yang menjadi landasan dalam menyikapi proporium sebagai landasan dasar perkembangan yang sehat.
Menurut Allport, kebahagiaan bukanlah suatu tujuan dalam diri, tetapi hasil sampingan dari integrasi kepribadian dalam mengejar aspirasi dan tujuan. Tujuan-tujuan yang dicita-citakan oleh orang yang sehat pada hakikatnya tidak dapat dicapai. Orang-orang yang matang dan sehat tidak puas apabila dalam melakukan sesuatu hanya dalam taraf sedang atau memadai, mereka baru merasa puas apabila melakukan sesuatu dengan kemampuan maksimal mereka.
D.    KESEHATAN MENTAL MENURUT MASLOW
Maslow berpendapat bahwa seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat, apabila dia telah mampu untuk mengaktualisasikan dirinya secara penuh (self-actuaizing person). Maslow mengungkapkan teori motivasi bagi self-actualizing person dengan nama metamotivation. Meta-needs, B-motivation, atau being values (dalam Ruswandi,dkk 2010). Beberapa kepribadian yang sehat menurut humanistic, adalah perilaku yang mengarah pada aktualisasi diri. Misalkan seperti:
1.      Menjalani hidup seperti seorang anak, dengan penyerapan dan konsentrasi sepenuhnya.
2.      Mencoba hal-hal baru dibandingkan bertahan pada cara-cara yang aman dan tidak berbahaya.
3.      Bekerja keras untuk apa saja yang ingin dilakukan
4.      Mencoba mengindetifikasikan pertahan diri dan memiliki keberanian untuk menghentikannya.
E.     KESIMPULAN
Teori humanistic menyatakan bahwa setiap manusia unik. Manusia adalah makhluk kreatif, yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri bukan pada kekuatan-kekuatan ketidaksadaran. Kesehatan mental menurut humanistic adalah sesuai dengan keyakinan humanistic bahwa manusia unik maka untuk memenuhi kebutuhan manusia melakukan hal-hal yang berbeda, kreatif dan bebas dari segala tekanan dari luar dan bagaimana manusia melakukan hal yang berbeda-beda dalam menghadapi berbagai tekanan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental.

Daftar Pustaka
Sumadi, Suryabrata. 2008. Psikologi Kepribadian. RajaGrafindo Persada : Jakarta
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan Model Model Kepribadian Sehat. Kanisius: Yogyakarta.
Basuki, Heru. 2008. Psikologi Umum. Universitas Gunadarma:Jakarta
Semiun, Yustinus. 2006. Teori Kepribadian & Terapi Psikoanalitik Fromm. Kanisius:Yogyakarta
Schultz Duane. 1991. Pengantar Psikologi Kepribadian Non Psikoanalitik. Kanisius:Yogyakarta
                  
Rochman, Kholil.2010.Kesehatan Mental.Yogyakarta : Fajar Media Press.
Ruswandi, Uus, Badrudin.2010. Pengembangan Kepribadian Guru.Bandung: CV. Insan Mandiri.
Koswara, E. 1991. Teori-teori Kepribadian. Bandung: PT. Eresco.
Hikmat.2012.Teori Kepribadian Humanistik. Jurnal. http://azriazizah0.blogspot.com/2013/03/teori-kepribadian-sehat.html
Pramudityo. M.R. 2013. Teori Kepribadian Sehat Menurut aliran Humanistik, Aliran Psikoanalisis, dan Aliran Behavioristik. Jurnal. http://azriazizah0.blogspot.com/2013/03/teori-kepribadian-sehat.html.

 

All About Psychology Template by Ipietoon Cute Blog Design